English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified


PRINCES ECONOMY WORLDWIDE

Informasi Terpanas Tentang Ekonomi Yang Lagi Menjadi Trending Topik diseluruh Dunia *** Read More ***

PRINCES CELEBRITY WORLDWIDE

Informasi Terpanas Tentang Kehidupan Artis Yang Lagi Menjadi Trending Topik diseluruh Dunia *** Read More ***

PRINCES HISTORY TOUR AND TRAVEL

Informasi Terpanas Tentang Perjalanan Wisata Yang Lagi Menjadi Trending Topik diseluruh Dunia *** Read More ***

PRINCES LOVE GOD

Informasi Terpanas Tentang Kehidupan Rohani Yang Lagi Menjadi Trending Topik diseluruh Dunia *** Read More ***

PRINCES ADVERTISING

Kesempatan Buat Anda yang ingin Memajukan Bisnis dengan Pasang Iklan Secara Gratis dan Dibaca diseluruh Dunia *** Read More ***

Beli Pulsa Listrik Disini

www.opulsa.com

PENGARUH MOTIVASI TERHADAP PENINGKATAN KINERJA

Princes.in - Selama lebih dari puluhan tahun misteri motivasi dan kinerja diungkap oleh para pakar psikologi untuk mencari akar masalah terjadinya motivasi dan demotivasi di lingkungan kerja. Beberapa ahli psikologi bahkan ada yang melakukan riset dan eksperimen untuk mengkaji terjadinya motivasi dalam pekerjaan dan menentukan faktor-faktor yang dapat meningkatkan motivasi atau menurunkan motivasi individu di tempat kerja.

A. APA ITU MOTIVASI ?

Istilah motivasi berasal dari bahasa latin yaitu movere yang berarti bergerak atau menggerakkan. Motivasi diartikan juga sebagai suatu kekuatan sumber daya yang menggerakkan dan mengendalikan perilaku manusia. Motivasi sebagai upaya yang dapat memberikan dorongan kepada seseorang untuk mengambil suatu tindakan yang dikehendaki, sedangkan motif sebagai daya gerak seseorang untuk berbuat. Karena perilaku seseorang cenderung berorientasi pada tujuan dan didorong oleh keinginan untuk mencapai tujuan tertentu.
motivasi

Dalam konteks pekerjaan, motivasi merupakan salah satu faktor penting dalam mendorong seorang karyawan untuk bekerja. Motivasi adalah kesediaan individu untuk mengeluarkan upaya yang tinggi untuk mencapai tujuan organisasi (Stephen P. Robbins, 2001). Ada tiga elemen kunci dalam motivasi yaitu upaya, tujuan organisasi dan kebutuhan. Upaya merupakan ukuran intensitas. Bila seseorang termotivasi maka ia akan berupaya sekuat tenaga untuk mencapai tujuan, namun belum tentu upaya yang tinggi akan menghasilkan kinerja yang tinggi. 

Oleh karena itu, diperlukan intensitas dan kualitas dari upaya tersebut serta difokuskan pada tujuan organisasi. Kebutuhan adalah kondisi internal yang menimbulkan dorongan, dimana kebutuhan yang tidak terpuaskan akan menimbulkan tegangan yang merangsang dorongan dari dalam diri individu. Dorongan ini menimbulkan perilaku pencarian untuk menemukan tujuan, tertentu. Apabila ternyata terjadi pemenuhan kebutuhan, maka akan terjadi pengurangan tegangan. Pada dasarnya, karyawan yang termotivasi berada dalam kondisi tegang dan berupaya mengurangi ketegangan dengan mengeluarkan upaya.

Proses motivasi yang menunjukkan kebutuhan yang tidak terpuaskan akan meningkatkan tegangan dan memberikan dorongan pada seseorang dan menimbulkan perilaku digambarkan sebagai berikut:
  • Kebutuhan tidak terpuaskan
  • Tegangan
  • Dorongan
  • Perilaku Pencarian
  • Pengurangan Tegangan
  • Kebutuhan Terpuaskan

Pada umumnya kinerja yang tinggi dihubungkan dengan motivasi yang tinggi. Sebaliknya, motivasi yang rendah dihubungkan dengan kinerja yang rendah. Kinerja seseorang kadang-kadang tidak berhubungan dengan kompetensi yang dimiliki, karena terdapat faktor diri dan lingkungan kerja yang mempengaruhi kinerja.

Kinerja yang tinggi adalah fungsi dan interaksi antara motivasi, kompetensi dan peluang sumber daya pendukung, sehingga kinerja dapat dirumuskan sebagai berikut:
Kinerja = f ( Motivasi x Kompetensi x Kesempatan )

B. TEORI MOTIVASI
Terdapat 5 teori motivasi yang paling popular dan berpengaruh besar dalam praktek pengembangan sumber daya manusia dalam suatu organisasi.

1. Teori Efek Hawthorn
Penelitian oleh Elton Mayo pada perusahaan General Electric kawasan Hawthorn di Chicago, memilki dampak pada motivasi kelompok kerja dan sikap karyawan dalam bekerja. Kontribusi hasil penelitian tersebut bagi perkembangan teori motivasi adalah:
Kebutuhan dihargai sebagai manusia ternyata lebih penting dalam meningkatkan motivasi dan produktivitas kerja karyawan dibandingkan dengan kondisi fiisik lingkungan kerja.
Sikap karyawan dipengaruhi oleh kondisi yang terjadi baik di dalam maupun di luar lingkungan tempat kerja.
Kelompok informal di lingkungan kerja berperan penting dalam membentuk kebiasaan dan sikap para karyawan.
Kerjasama kelompok tidak terjadi begitu saja, tetapi harus direncanakan dan dikembangkan.
2. Teori Kebutuhan
Menurut Abraham Maslow, pada dasarnya karyawan bekerja untuk memenuhi kebutuhan sebagai berikut:
· Kebutuhan fisiologis.
· Kebutuhan rasa aman.
· Kebutuhan social.
· Kebutuhan harga diri.
· Kebutuhan aktualisasi diri.
Kebutuhan-kebutuhan tersebut bersifat hierarkis, yaitu suatu kebutuhan akan timbul apabila kebutuhan dasar sebelumnya telah dipenuhi. Setelah kebutuhan fisiologis seperti pakaian, makanan dan perumahan terpenuhi, maka kebutuhan tersebut akan digantikan dengan kebutuhan rasa aman dan seterusnya. Sehingga tingkat kebutuhan seseorang akan berbeda-beda dalam bekerja. Seseorang yang kebutuhan hanya sekedar makan, maka pekerjaan apapun akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
3. Teori X dan Y
McGregor mengemukakan dua model yang menjelaskan motivasi karyawan yang bekerja yaitu teori X dan teori Y.
Teori X menganggap bahwa:Karyawan tidak suka bekerja dan cenderung untuk menghindari kerja.
  • Karyawan harus diawasi dengan ketat dan diancam agar mau bekerja dengan baik. 
  • Prosedur dan disiplin yang keras lebih diutamakan dalam bekerja. 
  • Uang bukan satu-satunya faktor yang memotivasi kerja. 
  • Karyawan tidak perlu diberikan kesempatan untuk mengembangkan diri.

Teori Y menganggap bahwa:
  • Karyawan senang bekerja, sehingga pengawasan dan hukuman tidak diperlukan oleh karyawan. 
  • Karyawan akan memiliki komitmen terhadap pekerjaan dan organisasi jika merasa memuaskan. 
  • Manusia cenderung ingin belajar. 
  • Kreatifitas dan Imajinasi digunakan untuk memecahkan masalah.

4. Teori Hygine dan Motivator
Menurut Herzberg, faktor yang menimbulkan kepuasan kerja karyawan berbeda dengan faktor yang menimbulkan ketidak-puasan kerja sebagai berikut.
Faktor Hygine meliputi :
  • Kebijakan perusahaan dan sistem administrasinya. 
  • Sistem pengawasan. 
  • Gaya kepemimpinan. 
  • Kondisi lingkungan kerja. 
  • Hubungan antar pribadi. 
  • Gaji / upah. 
  • Status. 
  • Kesehatan dan keselamatan kerja.
Faktor Motivator meliputi :
  • Pengakuan. 
  • Penghargaan atas prestasi. 
  • Tanggungjawab yang lebih besar. 
  • Pengembangan karir. 
  • Pengembangan diri. 
  • Minat terhadap pekerjaan.

5. Teori Motivasi Berprestasi
David McClelland menjelaskan tentang keinginan seseorang untuk mencapai kinerja yang tinggi. Hasil penelitian tentang motivasi berprestasi menunjukkan pentingnya menetapkan target atau standar keberhasilan. Karyawan dengan ciri-ciri motivasi berprestasi yang tinggi akan memiliki keinginan bekerja yang tinggi. Karyawan lebih mementingkan kepuasan pada saat target telah tercapai dibandingkan imbalan atas kinerja tersebut. Hal ini bukan berarti mereka tidak mengharapkan imbalan, melainkan mereka menyukai tantangan.
Ada tiga macam kebutuhan yang dimiliki oleh setiap individu yaitu:
  • Kebutuhan berprestasi (Achievement motivation) yang meliputi tanggung jawab pribadi, kebutuhan untuk mencapai prestasi, umpan balik dan mengambil risiko sedang.
  • Kebutuhan berkuasa (Power motivation) yang meliputi persaingan, mempengaruhi orang lain.
  • Kebutuhan berafiliasi (Affiliation motivation) yang meliputi persahabatan, kerjasama dan perasaan diterima.

Dalam lingkungan pekerjaan, ketiga macam kebutuhan tersebut saling berhubungan, karena setiap karyawan memiliki semua kebutuhan tersebut dengan kadar yang berbeda-beda. Seseorang dapat dilatihkan untuk meningkatkan salah satu dari tiga faktor kebutuhan ini. Misalnya untuk meningkatkan kebutuhan berprestasi kerja, maka karyawan dapat dipertajam tingkat kebutuhan berprestasi dengan menurunkan kebutuhan yang lain.
C. KARAKTERISTIK MOTIVASI BERPRETASI

McClelland seorang pakar psikologi dari Universitas Harvard di Amerika Serikat mengemukakan bahwa kinerja seseorang dapat dipengaruhi oleh virus mental yang ada pada dirinya. Virus tersebut merupakan kondisi jiwa yang mendorong seseorang untuk mencapai kinerja secara optimal. Ada tiga jenis virus sebagai pendorong kebutuhan yaitu kebutuhan berprestasi, kebutuhan berafiliasi dan kebutuhan berkuasa. Karyawan perlu mengembangkan virus tersebut melalui lingkungan kerja yang efektif untuk meningkatkan kinerja dan mencapai tujuan perusahaan.

Motivasi berprestasi merupakan suatu dorongan dengan ciri-ciri seseorang melakukan pekerjaan dengan baik dan kinerja yang tinggi. Kebutuhan akan berprestasi tinggi merupakan suatu dorongan yang timbul pada diri seseorang untuk berupaya mencapai target yang telah ditetapkan, bekerja keras untuk mencapai keberhasilan dan memiliki keinginan untuk mengerjakan sesuatu secara lebih lebih baik dari sebelumnya.

Karyawan dengan motivasi berprestasi tinggi sangat menyukai tantangan, berani mengambil risiko, sanggup mengambil alih tanggungjawab, senang bekerja keras. Dorongan ini akan menimbulkan kebutuhan berprestasi karyawan yang membedakan dengan yang lain, karena selalu ingin mengerjakan sesuatu dengan lebih baik. Berdasarkan pengalamam dan antisipasi dari hasil yang menyenangkan serta jika prestasi sebelumnya dinilai baik, maka karyawan lebih menyukai untuk terlibat dalam perilaku berprestasi. Sebaliknya jika karyawan telah dihukum karena mengalami kegagalan, maka perasaan takut terhadap kegagalan akan berkembang dan menimbulkan dorongan untuk menghindarkan diri dari kegagalan.

Ciri-ciri perilaku karyawan yang memiliki motivasi berprestasi yang tinggi menurut McClelland adalah:
· Menyukai tanggungjawab untuk memecahkan masalah.
· Cenderung menetapkan target yang sulit dan berani mengambil risiko.
· Memiliki tujuan yang jelas dan realistik.
· Memiliki rencana kerja yang menyeluruh.
· Lebih mementingkan umpan balik yang nyata tentang hasil prestasinya.
· Senang dengan tugas yang dilakukan dan selalu ingin menyelesaikan dengan sempurna.

Sebaliknya ciri-ciri karyawan yang memiliki motivasi berprestasi rendah adalah:
· Bersikap apatis dan tidak percaya diri.
· Tidak memiliki tanggungjawab pribadi dalam bekerja.
· Bekerja tanpa rencana dan tujuan yang jelas.
· Ragu-ragu dalam mengambil keputusan.
· Setiap tindakan tidak terahan dan menyimpang dari tujuan.

Laporan hasil penelitian tentang gaya manajerial dari 16.000 manajer di Amerika Serikat yang memiliki motivasi berprestasi yang tinggi, menengah dan rendah menunjukkan sebagai berikut :
  • Manajer dengan motivasi berprestasi yang rendah memiliki karakter pesimis dan tidak percaya dengan kemampuan bawahannya. Sedangkan manajer dengan motivasi berprestasi tinggi sangat optimis dan memandang bawahan baik dan menyenangkan.
  • Motivasi manajer dapat diproyeksikan pada bawahannya. Bagi manajer yang bermotivasi prestasi tinggi selalu memperhatikan aspek-aspek pekerjaan yang harus diselesaikan dan mendiskusikan tugas pekerjaan yang harus dicapai bawahannya, sehingga mereka akan menerima.
  • Manajer yang bermotivasi berprestasi tinggi cenderung menggunakan metode partisipasi terhadap bawahannya, sedangkan manajer dengan motivasi berprestasi sedang dan rendah selalu menghindar dalam interaksi dan komunikasi terbuka.
  • Manajer yang prestasinya tinggi lebih memperhatikan pada manusia dan tugas / produksi, manajer yang prestasinya sedang lebih memperhatikan tugas / produksi, sedangkan manajer yang prestasinya rendah hanya memperhatikan kepentingan pribadi dan tidak menghiraukan bawahannya.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi berprestasi dengan tingkat kinerja. Artinya, para karyawan yang memiliki motivasi berprestasi tinggi akan cenderung memiliki tingkat kinerja yang tinggi. Sebaliknya, mereka yang motivasi berprestasinya rendah kemungkinan akan memperoleh kinerja yang rendah.

D. TEKNIK MEMOTIVASI KERJA

Beberapa teknik untuk memotivasi kerja sebagai berikut :
1. Teknik Pemenuhan Kebutuhan
Pemenuhan kebutuhan merupakan dasar bagi perilaku kerja. Motivasi kerja akan timbul apabila kebutuhan dipenuhi seperti dikemukakan oleh Maslow tentang hierarki kebutuhan individu yaitu :
  • Kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan makan, minum, perumahan dan seksual. Kebutuhan ini paling mendasar bagi manusia. Dalam bekerja, maka kebutuhan karyawan yang harus dipenuhi adalah gaji / upah yang layak.
  • Kebutuhan rasa aman, yaitu kebutuhan perlindungan dari ancaman bahaya dan lingkungan kerja. Dalam bekerja, karyawan memerlukan tunjangan kesehatan, asuransi dan dana pensiun.
  • Kebutuhan sosial, yaitu kebutuhan diterima dalam kelompok dan saling mencintai. Dalam hubungan ini, karyawan ingin diterima keberadaanya di tempat kerja, melakukan interaksi kerja yang baik dan harmonis.
  • Kebutuhan harga diri, yaitu kebutuhan untuk dihormati dan dihargai oleh orang lain. Dalam hubungan ini, karyawan butuh penghargaan dan pengakuan serta tidak diperlakukan sewenang-wenang.
  • Kebutuhan aktualisasi diri, yaitu kebutuhan untuk mengembangkan diri dan potensi. Dalam hubungan ini, karyawan perlu kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara pribadi.

2. Teknik Komunikasi Persuasif

Teknik komunikasi persuasif adalah satu teknik memotivasi kerja yang dilakukan dengan cara mempengaruhi dari luar diri. Rumus teknik komunikasi persuasif adalah ADIDAS sebagai berikut :
  • A ttention, yaitu perhatian yang penuh
  • D esire, yaitu hasrat dan keinginan yang membara
  • I interest, yaitu minat dan kepentingan
  • D esicion, yaitu keputusan yang tepat
  • A ction, yaitu tindakan nyata
  • S atisfaction, yaitu kepuasan atas hasil yang dicapai

MENGATASI RACUN MOTIVASI

Memotivasi merupakan salah satu faktor kunci untuk bekerja dan mencapai kinerja yang tinggi. Kegiatan memotivasi berkaitan dengan sejauhmana komitmen seseorang terhadap pekerjaannya dalam rangka mencapai tujuan perusahaan. Karyawan yang motivasinya terhadap suatu pekerjaan rendan atau turun akan memiliki komitmen terhadap pelaksanaan penyelesaian pekerjaannya. Karyawan tersebut termasuk orang yang kurang semangat atau motivasi rendah. Pada dasarnya, yang membuat karyawan kehilangan motivasi atau tidak semangat adalah situasi dan kondisi pekerjaan itu sendiri.

Tanda-tanda karyawan yang termotivasi dengan baik
Untuk mengetahui apakah seorang karyawan memiliki motivasi yang tinggi dalam melakukan tugas akan dapat diketahui dengan mengamati karyawan dengan tanda-tanda motivasi baik adalah :
  • Bersikap positif terhadap pekerjaannya
  • Menunjukkan perhatian yang tulus terhadap pekerjaan orang lain dan membantu mereka bekerja lebih baik
  • Selalu menjaga kesimbangan sikap dalam berbagai situasi
  • Suka memberi motivasi kepada orang lain walaupun kadang tidak berhasil
  • Selalu berpikir positif dari suatu kejadian

Tanda-tanda karyawan yang termotivasi dengan buruk
Untuk mengetahui apakah seorang karyawan kehilangan motivasi tidak selalu mudah karena jarang diungkapkan. Namun hal ini dapat diketahui dari perubahan sikap yang terjadi pada dirinya yang dapat diamati. Tanda-tanda sikap karyawan yang tidak memiliki motivasi kerja adalah :
  • Tidak bersedia bekerja sama
  • Tidak mau menjadi sukarelawan
  • Selalu datang terlambat, pulang awal dan mangkir tanpa alasan
  • Memperpanjang waktu istirahat dan bermain game dalam waktu kerja
  • Tidak menepati tenggat waktu tugas
  • Tidak mengikuti standar yang ditetapkan
  • Selalu mengeluh tentang hal sepele
  • Saling menyalahkan
  • Tidak mematuhi peraturan

Cara mengatasi penurunan motivasi
Suatu hal yang perlu diperhatikan agar karyawan dan perusahaan tidak mengalami kerugian akibat penutunan motivasi, maka kita perlu mengatasi masalah tersebut dan mencegah dengan berupaya mengantisipasi kondisi yang terjadi.

Beberapa pendekatan untuk mengatasi atau mengurangi kekurangan semangat dan motivasi dalam melaksanakan pekerjaan adalah dengan pendekatan kuratif dan pendekatan preventif.

1. Pendekatan Kuratif
Pendekatan kuratif atau mengatasi adalah melihat apakah masalah yang menimbulkan pengaruh pada motivasi penting atau tidak dalam pekerjaan. Apabila masalahnya tidak terlalu penting maka kita tidak perlu merasa putus asa. Tetapi bila ternyata masalah itu penting dalam pekerjaan, maka bicara secara terbuka dan langsung dengan pihak yang berwenang untuk mendapatkan kesamaan persepsi sehingga jalan keluarnya dapat ditemukan, misalnya atasan atau konselor. Bila pihak yang berwenang tidak dapat ditemui secara langsung, hubungi melalui surat atau telepon.
2. Pendekatan Antisipatif
Karyawan sebaiknya bekerja dengan sebaik-baiknya dan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Selanjutnya berusaha menenangkan hati sewaktu bekerja dan jangan terganggu dengan perasaan gelisah. Bila merasa gelisah karena hal-hal yang tidak berkaitan dengan pekerjaan, maka sebaiknya menenagkan diri di luar ruang kerja dengan cara yang diyakini berhasil, misalnya dengan berdoa atau yoga. Karyawan disarankan bersikap dan berpikir positif terhadap pekerjaan.

Pemimpin Sebagai Motivation Stimulator

Kali ini kita akan berbicara fungsi terakhir, yakni pemimpin sebagai motivation stimulator. Mengapa fungsi ini termasuk dalam satu mata rantai yang krusial bagi seorang pemimpin?

Leadership Skills
Tidak lain karena posisi pemimpin itu sendiri yang berada di tengah-tengah. Sebagai seorang yang menjadi pusat, seorang pemimpin akan selalu dimintai nasihat dan pandangan-pandangan tertentu atas berbagai fenomena yang terkait dengan organisasi yang dipimpinnya.

Oleh karena itu tidak heran bahwa seorang pemimpin merupakan “manusia super” di mana orang-orang akan datang kepadanya, meminta nasihat, atau berbincang anak buahnya. Pemimpin juga adalah seorang yang mampu menciptakan kondisi di mana visinya akan menjadi panduan bagi organisasi yang dipimpinnya.
Karena hal-hal itulah, pemimpin menjadi sebuah sentra penting bagi kelangsungan hidup organisasi.

Meskipun demikian, kita telah mengetahui bahwa pemimpin tidak bisa bekerja sendirian mengembangkan organisasi. Harus ada orang-orang yang membantunya mengurus segala hal, segala tetek bengek yang berkaitan dengan tugas/proyek tertentu yang mesti dikerjakan secara bersama-sama. Ini bukan berarti bahwa sebuah organisasi merupakan tipe ruang yang cair, atau tempat di mana orang-orang bisa berdiri sejajar bersama pimpinannya.

Bagaimanapun, hierarki tetap perlu dijaga, meskipun pada hakikatnya pemimpin tetaplah sebagai sentral yang mengatur segala hal, termasuk di sini bagaimana ia akan memotivasi orang-orang yang berada di sekitarnya.

Di awal kita sudah berbicara banyak tentang peran pemimpin sebagai seorang visioner. Artinya ia harus menetapkan visi tertentu yang bisa digapai oleh anak buah yang berada di sekitarnya. Visi inilah yang menjadi kunci pemahaman utama ketika kita berbicara tentang pemimpin sebagai motivation stimulator.

Dalam peran sebagai seorang motivation stimulator, ada beberapa hal yang bisa dibicarakan di sini, meliputi:

1) Peran itu sendiri
Maksudnya adalah, seorang pemimpin memang harus menetapkan visi dan merancang strategi tertentu supaya visi tersebut bisa tercapai. Ini merupakan sebuah hal umum yang perlu dipahami seorang pemimpin.
Namun yang perlu diperhatikan adalah setelahnya, yakni bagaimana pemimpin menginspirasi dan memotivasi orang lain supaya mereka tetap berada di jalur yang benar. Tidak perlu bersikap otoriter supaya orang lain berada di jalan yang benar, sebab pemimpin hanya perlu bersikap mengayomi dan menganggap pekerjaannya adalah untuk membantu orang lain berkembang.

2) Motivasi = keutamaan
Sebagai motivator, pemimpin harus punya keinginan untuk mendayagunakan berbagai sumber daya yang tersedia guna membantu organisasi mencapai tingkat yang lebih tinggi. Tentu saja perkaranya adalah juga soal bagaimana seorang pemimpin berusaha untuk memotivasi orang dengan cara semaksimal mungkin. Motivasi menjadi penting dalam kaitannya dengan pencapaian sasaran-sasaran tertentu.
Jika diibaratkan, pemimpin adalah lokomotif yang akan membawa gerbong di belakangnya menuju kemajuan/perubahan. Bahan bakar utama dari lokomotif adalah motivasi yang disalurkan lewat gerbong di belakangnya.

Baca Artikel Terkait = > Menghapus Rasa Kecewa

Sukses dalam Dunia Kerja

Pernahkah Anda terpuruk, tidak bisa berpikir lagi dan ingin mengakhiri hidup Anda? Semoga ini tidak terjadi pada kehidupan Anda, memang kita tidak bisa lepas dari masalah.
Yang namanya manusia pasti punya masalah selama dia hidup, kalau tak ingin punya masalah, ya jangan hidup! Itu salah satu perkataan yang sering kita dengar dalam kehidupan ini, hidup memang penuh masalah, tapi jangan jadikan masalah awal khancuran Anda.
Masalah sebenarnya adalah hal yang membuat kita tambah dewasa, tambah pintar berpikir dan memecahkan masalah tersebut.

Sukses dalam Dunia Kerja
Tapi, sayang manusia kadang tak bisa memotivasi dirinya sendiri, mereka cenderung menyalahkan diri dan akhirnya jatuh dalam masalah. Motivasi adalah salah satu bagian penting dari masalah yang Anda hadapi. Motivasi memiliki prinsip dan masing-masing orang memiliki prinsip motivasi yang berbeda. Sebagian orang menggunakan motivasi agar mereka bisa meraih sukses, namun beberapa orang membutuhkan motivasi agar terlepas dari masalah yang dihadapinya.

Tiap orang memiliki prinsip motivasi yang berbeda, demikian juga Anda. Bagi seorang pemimpin, mereka mnerapkan suatu kebijakan untuk memberikan motivasi kepada anak buahnya, motivasi tersebut bisa berupa material maupun non material.
Semua jenis motivasi yang diberikan seorang pimpinan kepada bawahan, hal ini berdasarkan pada prinsip-prinsip motivasi. Di lingkungan kerja banyak masalah yang akan terjadi, jika individu tidak memiliki motivasi yang kuat, bisa jadi dia akan bermasalah dalam kerjanya.

Pada umumnya prinsip motivasi dalam dunia kerja ada bermacam-macam, hal ini tergantung masing-masing individu. Permasalahan yang sering dihadapi oleh banyak orang dalam dunia kerja adalah permasalahan gaji atau jaminan upah minimum yang diberikan manajemen kepada karyawannya.
Dan pada dasarnya memang tidak ada seorang karyawan pun yang ingin berada pada situasi kurang menyenangkan dimana dia mendapatkan gaji kecil atau gaji yang tidak sesuai dengan kinerjanya. Masalah ini bukanlah hal yang sepele, namun mereka membutuhkan motivasi agar tidak meninggalkan pekerjaan di tempat tersebut dan mencari manajemen lain yang bisa memberikan gaji lebih besar.

Dalam dunia kerja pun sering timbul suatu ketetapan yang membuat karyawan bisa senang namun kadang juga bisa membuat karyawan merasa depresi. Ketetapan manajemen kadang mempunyai efek yang psikologis baik efek positif maupun negatif. Prinsip motivasi pada dasarnya menunjukkan bahwa motivasi tersebut harus dirumuskan secara hati-hati.
Perumusan motivasi yang hati-hati tersebut dimaksudkan agar perusahaan bisa memberikan kesempatan bagi karyawan untuk meningkatkan jumlah penghasilan mereka. Prinsip motivasi selanjutnya adalah dalanya sistem yang membuat motivasi tersebut berhasil menjadikan seseorang atau beberapa orang sukses. Mereka bisa berubah lebih baik dan motivasi tersebut bisa tertanam dalam setiap langkah karyawan.

Beberapa prinsip motivasi yang sering digunakan adalah:

1. Kebiasaan
Kebiasaan seseorang dalam bekerja tidak sama dengan orang lain, motivasi yang dibutuhkan pun juga berbeda. Anda sebagai manajer tidak bisa langsung memberikan motivasi pada karyawan tanpa mengetahui bagaimana kebiasaan mereka. Untuk memberikan motivasi kepada karyawan atau orang lain, Anda harus memahami kelakukan orang-orang tersebut sehingga motivasi yang diberikan jauh lebih efektif daripada tidak mengetahuinya sama sekali.

2. Rasa takut
Rasa takut yang berlebih akan membuat seseorang menginginkan peran orang lain untuk memberikan motivasi kepadanya. Motivasi akan menghilangkan rasa takut seseorang yang berlebih bahkan saat di dunia kerja. Takut adalah salah satu alasan mengapa motivasi diperlukan. Prinsip motivasi yang baik adalah memahami mengapa seseorang merasa takut dan bagaimana rasa takut itu akan hilang dengan mudah dan tidak kembali lagi.

3. Ingin lebih baik
Pada prinsipnya motivasi akan mendorong seseorang menjadi lebih baik, bahkan akan membuat suatu perusahaan jauh lebih baik. Prinsip motivasi adalah menjadikan sesuatu atau seseorang menjadi lebih baik

4. Pemecahan masalah
Seseorang akan jauh lebih mudah untuk memecahkan masalah ketika mereka mendapatka motivasi yang tepat. Prinsip motivasi adalah untuk membantu manusia dalam pemecahan masalah. Jika seseorang mengalami masalah, dia mendapatkan motivasi yang tepat, hal ini akan membangkitkan rasa percaya diri mereka untuk segera menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Prinsipnya, motivasi memang dibutuhkan dalam semua persoalan hidup dan juga masalah pekerjaan -


Baca Artikel Terkait : =>  Sudut Pandang Arti Sukses